Selasa, 16 Oktober 2012

BERGURU PADA SUNYI



BERGURU PADA SUNYI
Oleh: Suryan Masrin


Mengawali tulisan ini, saya mulai dengan sebuah ungkapan dari Ibnu Qoyyim; “Jika engkau amati, kebanyakan manusia rela dengan dunia dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dan sangat sedikit yang sanggup berbeda dengan mereka. Karena akan menjadi terasing di antara mereka.”

Dunia yang semakin ramai, semakin banyak hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan semakin banyak pula hal-hal aneh terjadi. Hiruk-pikuk, sorak-sorai pesta dunia terlihat di mana-mana. Banyak orang berlomba-lomba untuk terus berhias hanya demi kesenangan semata. Demi bersenang-senang, mereka rela menggadaikan akidahnya. Segala cara dilakukan demi mencapai cita-cita. Persis seperti yang dikatakan oleh Nabi saw, dunia yang semakin tua ini, seperti orangtua yang semakin berdandan. Ibarat tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi-jadi. Tidak pernah menyiapkan dan membekali diri, padahal usia semakin berkurang, sedangkan dunia semakin kelam.

Di balik semua itu, hanya ada sekelompok orang shalih yang mampu mengendalikan diri agar tidak terjerumus ke dalam hal tersebut. Mereka tidak tergiur dengan kenikmatan yang semu, bahkan mereka rela hanyut dalam kesunyian, demi mendapatkan mardhotillah (keridhaan Allah). Orang-orang shalih merasa dunia tidak sedang ramai, tetapi sebaliknya, semakin sepi dan sunyi. Menjadikan diri larut dalam kesunyian, bersimpuh dalam cahaya iman dan kedekatan kepada Allah swt. Itulah yang mereka lakukan dan mereka rasakan, serta itu pula yang kita berharap dapat juga merasakannya (termasuk bagian darinya).
Berguru pada sunyi bukan tidak memilki makna, banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Jika di tengah-tengah keramaian orang sulit membagi waktu untuk Allah, paling hanya sekedar memenuhi kewajiban saja. Tetapi tidak demikian jika dalam keadaan sunyi. Bila di tengah keramaian kebanyakan orang susah untuk memaknai agama (Islam), tetapi tidak dalam kesunyian. Orang lebih banyak meluangkan waktu, menyempatkan diri, dan sengaja larut dalam kesunyian untuk berfikir jernih, lebih tenang, membaca al-Qur’an, buku-buku, dan bahkan dapat menenangkan dan mengobati stress. Mereka bisa memaknai arti dari indahnya berislam, hidup dengan beragama dan beraturan (berpegang pada al-Qur’an dan hadits).

Sebuah kisah, Abu Dzar al-Ghifari (sahabat nabi) yang meilih tinggal di Rabadzah, sebuah dusun kecil yang juga sepi di luar Madinah. Ia memilih tinggal di sana setelah beberapa waktu wafatnya Nabi Muhammad saw. Memang tidak mudah berpisah dengan seorang nabi  yang mulia bagi seorang yang pernah hidup bersama beliau. Namun itulah yang dirasakan oleh Abu Dzar, yang membuatnya benar-benar sunyi, di tengah gairah kekuasaan Islam yang terus melebar, ketika tanah demi tanah tunduk dalam hidayah Islam. Sebuah keputusan dan pilihan yang sangat sulit. Bagaimana bila seandainya kita yang merasakan hal demikian?

Pilihan keteguhannya benar-benar menghantarkannya kepada sepi yang tak terperikan, jauh dari  keramaian dan kemewahan. Sebuah keputusan yang benar-benar sulit.

Suatu hari, seorang laki-laki datang ke rumah Abu Dzar. Orang itu melayangkan pandangan ke setiap pojok rumahnya. Dia tidak melihat apa-apa di dalam rumah itu. Kemudian orang itu bertanya, “Wahai Abu Dzar, di mana barang-barangmu?” Abu Dzar menjawab, “Kami mempunyai rumah yang lain (di akhirat). Barang-barang kami yang bagus telah kami kirimkan ke sana.” 

Orang itu rupanya mengerti maksud Abu Dzar, lalu ia berkata, “tetapi  bukankah kamu memerlukan juga barang-barang itu di rumah ini (di dunia).”

“Tetapi yang punya rumah (Allah) tidak membolehkan kami tinggal di sini (di dunia) selamanya.” Jawab Abu Dzar.

Begitulah seorang Abu Dzar yang memilih hidup dengan kesunyian. Ia rela tinggal di rumahnya dengan tiada barang-barang apapun. Yang diutamakan hanya senantiasa bertemu dengan Tuhannya. Dan itu adalah pilihan hidupnya.

Sebagian dari sunyi itu adalah takdir Allah, sebagian lagi aadalah pilihan hidupnya. Meskipun sebuah pilihan hidup, tetap tak terjadi tanpa takdir dan kehendak Allah swt. Tetapi kata kunci dari kesunyian Abu Dzar terletak pada derajat keshalihan yang dipilihnya. Ia telah berusaha memilih yang paling di atasnya, dan itulah pilihan kesunyian itu. Dukutip dari Majalah Tarbawi Edisi 59 Th. 4/Rabiul Awwal 1424 H/15 Mei 2003 M).
Dari sekelumit kisah di atas, menggambarkan bahwa kesunyian merupakan sebagai hal atau sesuatu yang bermakna bagi orang-orang yang shalih. Ia menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri dan bemunajat kepada Allah swt. Berguru pada sunyi, agar menjadi lebih baik, terus membaik, dan terus menjadi yang terbaik di mata Allah swt dan manusia.

Mari jadikan keteladanan para nabi yang menggunakan waktu malamnya untuk bertemu dan berdialog dengan Allah swt di tengah kesunyian, di saat orang-orang tengah tertidur lelap, sebagai motivasi bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tak lupa juga, menjadikan keteladanan para keluarga, sahabat, dan tabi’in dalam berjuang melawan orang-orang kafir Quraisy dan mendakwahkan ajaran nabi (Islam) kepada mereka, di tengah tantangan, cacian, dan kekejaman, serta keberingasan orang-orang kafir tersebut.
Semoga kita menjadikan sunyi (kesunyian) sebagai moment untuk meresapi keindahan, memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, selalu mencari saudara yang sehati, mempererat silaturahim, dan berdo’a memohon keteguhan hati untuk tetap diistiqomahkan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana nabi sering berdo’a memohon keteguhan, “Ya Allah yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini untuk tetap berada di jalan-Mu.”

Ini jugalah yang merupakan do’a orang-orang shalih terdahulu. Sebagaimana tercatat dalam al-Qur’an, “(Mereka berdo’a), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepadda kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8).
Wallahu a’lam...

Belitong, 02 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar